Badak merupakan kendaraan bantuan tembak berukuran 6×6 yang dikembangkan oleh PT Pindad (Persero) untuk memenuhi kebutuhan dukungan tembakan (fire support) TNI Angkatan Darat. Platform ini menempati posisi antara kendaraan lapis baja ringan seperti Anoa dan tank medium, dengan mengusung meriam 90 mm pada turret dua‑orang dan mobilitas tinggi pada sasis roda.
Identitas dan cakupan profil
Nama resmi: Badak (Fire Support Vehicle – FSV).
Keluarga: Turunan dari keluarga kendaraan lapis baja Anoa 6×6.
Kelas: Kendaraan bantuan tembak (fire support vehicle) / panser roda enam.
Negara asal: Indonesia.
Produsen: PT Pindad (Persero).
Mitra teknologi persenjataan: Cockerill Maintenance & Ingenierie (CMI) – Belgia, penyedia meriam 90 mm dan turret.
Peran utama: Memberikan dukungan tembakan langsung terhadap infanteri, kendaraan ringan, dan posisi pertahanan musuh, serta dapat beroperasi di medan yang sulit dijangkau tank berjalur.
Varian dan konfigurasi
Sampai saat ini, Badak hanya tersedia dalam satu varian utama, yaitu Badak FSV 6×6 dengan turret dua‑orang berkaliber 90 mm. Tidak ada varian lain yang secara resmi diumumkan oleh PT Pindad maupun TNI.
Spesifikasi bersumber
| Parameter | Nilai | Satuan | Kondisi / Varian | Sumber |
|---|---|---|---|---|
| Berat kosong | 11 000 | kg | FSV Badak | [3] |
| Berat tempur | 14 500 | kg | FSV Badak | [3] |
| Panjang | 6,0 | m | FSV Badak | [3] |
| Lebar | 2,5 | m | FSV Badak | [3] |
| Tinggi | 2,9 | m | FSV Badak | [3] |
| Ground clearance | 400 | mm | FSV Badak | [3] |
| Kecepatan maksimum | 80 | km/h | FSV Badak | [3] |
| Daya jelajah | 600 | km | FSV Badak | [3] |
| Mesin | 340 | HP | Diesel inline‑6 dengan Turbo‑Intercooler | [3] |
| Awak | 3 | orang | Komandan, operator turret, pengemudi | [4] |
| Senjata utama | Meriam Cockerill 90 mm MkIII M‑A1 | Turret CSE‑90LP | [4] | |
| Senjata pelengkap | Senapan mesin 7,62 mm | [4] | ||
| Perisai | STANAG 4569 level 3 (potensi naik ke level 4) | [4] | ||
| Suspensi | Double wishbone | [4] | ||
| Produksi | 2014‑sekarang | [4] | ||
| Jumlah unit diproduksi | 17 | unit | [4] |
Peran dan cara membaca karakteristiknya
Badak dirancang untuk menempati celah antara kendaraan pengangkut personel (seperti Anoa) dan tank berjalur. Meriam 90 mm memberikan daya tembak yang cukup untuk menghancurkan kendaraan lapis baja ringan, bunker, dan konsentrasi infanteri, sementara bobot sekitar 14,5 ton membuatnya cukup ringan untuk melintasi jalan raya dan medan off‑road yang tidak dapat dilalui tank berat. Sistem suspensi double wishbone dan mesin 340 HP memungkinkan kecepatan hingga 80 km/h dan jangkauan operasional 600 km, sehingga Badak dapat mengikuti pergerakan pasukan mekanis maupun infanteri dalam operasi cepat.
Sejarah pengembangan dan penggunaan
- 2013 – Konsep Badak mulai dirancang sebagai kelanjutan dari platform Anoa, dengan fokus menambahkan turret berkaliber besar.
- 2014 – PT Pindad menandatangani Nota Kesepahaman dengan Cockerill (CMI Defence) untuk transfer teknologi turret 90 mm.[1] Prototipe pertama diuji pada tahun yang sama.
- 5 November 2014 – Badak resmi diluncurkan pada pameran Indo Defence & Aerospace di Jakarta, nama resmi diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.[1]
- 2015‑2016 – Produksi serial dimulai; total 17 unit dilaporkan selesai pada 2022.[4]
- 2022‑sekarang – Badak masuk dalam satuan kavaleri TNI Angkatan Darat sebagai kendaraan dukungan tembakan; belum tercatat terlibat dalam operasi tempur berskala besar.[4]
Konteks Indonesia dan operator
Operator utama Badak adalah TNI Angkatan Darat. Kendaraan ini ditempatkan pada satuan kavaleri untuk memperkuat kemampuan dukungan tembakan pada formasi mekanis dan infanteri. Hingga kini tidak ada laporan penggunaan Badak oleh negara lain atau penjualan ekspor.
Pengadaan dan perubahan status
Pengadaan Badak dilakukan melalui kontrak langsung antara PT Pindad dan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Jumlah total unit yang diproduksi tercatat sebanyak 17 unit, yang mencakup kendaraan lengkap beserta turretnya. Tidak ada informasi publik tentang tambahan pesanan setelah 2022.
Keterbatasan data
Beberapa aspek teknis masih belum tersedia secara lengkap dalam sumber terbuka, antara lain detail lengkap sistem kontrol tembakan, kapasitas amunisi internal, serta tingkat kesiapan operasional masing‑masing unit. Informasi mengenai varian tambahan (misalnya varian anti‑tank atau command‑post) belum dipublikasikan.



