Profil Alutsista

Kelas Martadinata – Frigat Panduan Operasi dan Pengembangan Indonesia

Oleh Dwi Septhia Alhinduan//3 menit baca

Diperbarui

Fakta & konteks singkat 15 informasi
JenisFrigat berpemandu rudal (guided‑missile frigate)
Peran utamaAnti‑permukaan, anti‑kapal selam, pertahanan udara
Negara pengembangIndonesia (kerja sama dengan Belanda)
ProdusenDamen Schelde Naval Shipbuilding – PT PAL Indonesia
OperatorTNI‑AL (Angkatan Laut Republik Indonesia)
Displacement (standard)2 365 ton
Panjang105,11 m
Lebar14,02 m
Draught3,75 m
PropulsiCODOE – 2×10 000 kW diesel, 2×1 300 kW listrik
Kecepatan maksimum28 kn
Jarak tempuh5 000 nmi pada 14 kn
Awak122 orang
Jumlah unit aktif2 kapal (KRI Raden Eddy Martadinata‑331 & KRI I Gusti Ngurah Rai‑332)
Tanggal peresmian pertama7 April 2017

Baca angka bersama varian, tanggal, dan referensi pada artikel.

Kelas Martadinata (juga disebut Martadinata‑class frigate) adalah kelas frigat berukuran menengah yang dibangun melalui kerja sama antara PT PAL Indonesia dan Damen Schelde Naval Shipbuilding (Belanda). Kelas ini menempati posisi antara kapal korvet dan destruktor, dirancang untuk peran anti‑permukaan, anti‑kapal selam, serta pertahanan udara pada zona operasi laut Indonesia.

Identitas dan Cakupan Profil

Nama resmi kelas: Martadinata‑class frigate. Setiap kapal dalam kelas ini termasuk dalam tipe Perusak Kawal Rudal (PKR) dan diklasifikasikan sebagai guided‑missile frigate. Produsen utama: Damen Schelde Naval Shipbuilding – PT PAL Indonesia.[1] Operator tunggal: Angkatan Laut Republik Indonesia (TNI‑AL).[4] Kelas ini merupakan penerus Kelas Ahmad Yani dan akan digantikan oleh generasi berikutnya, Kelas Merah Putih.[1]

Varian dan Konfigurasi

Kelas Martadinata direncanakan enam unit, namun hanya dua unit yang selesai dibangun dan masuk layanan: KRI Raden Eddy Martadinata (331) dan KRI I Gusti Ngurah Rai (332). Kedua kapal memiliki konfigurasi yang identik, berbasiskan desain SIGMA 10514 (panjang 105 m, lebar 14 m).[2] Unit pertama diluncurkan pada 2016 dan diserahkan pada 7 April 2017 di Dermaga Pondok Dayung TNI‑AL, Tanjung Priok.[3] Unit kedua diserahkan pada awal 2018.[2]

Spesifikasi Bersumber

Spesifikasi utama Kelas Martadinata (berbasis standar kelas)
ParameterNilaiSatuanKeterangan
Displacement (standard)2 365tonBerat kosong; data dari [1] dan [4]
Displacement (full load)2 946tonFull load; sumber [4]
Panjang105,11mUkuran keseluruhan; [1][2][4]
Lebar (Beam)14,02m[1][2][4]
Draught3,75m[1][4]
PropulsiCombined Diesel‑or‑Electric (CODOE)2×10 000 kW diesel, 2×1 300 kW motor listrik; [1][4]
Kecepatan maksimum28knDengan diesel full power; [4]
Kecepatan pada mode listrik15kn[4]
Jarak tempuh5 000nmiPada 14 kn; [4]
Endurance20hari[4]
Komplement122orangAwak standar; [2][4]
Armada kecil (RHIB)2unitRigid‑Hull Inflatable Boat; [4]
Sistem senjata utamaRIM‑162 Evolved Sea Sparrow Missile (ESSM) + Exocet MM40 Block 3Data umum kelas SIGMA 10514 (tidak dirinci dalam sumber); belum terverifikasi secara spesifik.
Radar utamaThales SMART‑S Mk2 (atau setara)Informasi umum kelas; tidak eksplisit di sumber yang ada.

Peran dan Cara Membaca Karakteristiknya

Desain CODOE memungkinkan kapal beroperasi secara senyap pada mode listrik, meningkatkan kemampuan anti‑kapal selam (ASW) pada kecepatan rendah serta mengurangi jejak termal. Kecepatan 28 kn memastikan kemampuan mengejar atau menghindari kapal permukaan cepat, sementara jangkauan 5 000 nmi mendukung patroli jauh di wilayah kepulauan Indonesia yang luas.

Sejarah Pengembangan dan Penggunaan

  • 2010: Kementerian Pertahanan Indonesia menandatangani kontrak awal dengan Damen untuk varian SIGMA 10514.
  • 2014–2017: Tahap pembangunan di galangan PT PAL, Tanjung Priok.
  • 6 Mei 2016: KRI Raden Eddy Martadinata diluncurkan.
  • 7 April 2017: Kapal pertama diserahkan secara resmi dan dioperasikan oleh TNI‑AL.[3]
  • Awal 2018: KRI I Gusti Ngurah Rai diserahkan dan masuk layanan.[2]
  • 2024: Kedua kapal tetap aktif, sementara dua unit tambahan dibatalkan karena pertimbangan anggaran.[4]

Konteks Indonesia dan Operator

Kedua frigat Martadinata menjadi bagian penting dari upaya modernisasi alutsista laut Indonesia, menggantikan kapal‑kapal tua kelas Ahmad Yani. Dengan kapasitas awak 122 orang, kapal ini dapat menampung tim operasi ASW, tim penerbang helikopter kecil, serta fasilitas perawatan medis dasar. Pengoperasian kapal sepenuhnya berada di bawah komando TNI‑AL, tanpa keterlibatan militer asing setelah penyerahan.

Pengadaan dan Perubahan Status

Ringkasan Pengadaan Kelas Martadinata
TahapJumlahKeterangan
Rencana awal6 unitDitentukan dalam kontrak 2010.
Diselesaikan2 unitKRI Raden Eddy Martadinata (331) & KRI I Gusti Ngurah Rai (332).
Dibatalkan2 unitPengurangan anggaran; dua unit sisanya masih dalam status perencanaan.
Biaya (hull only)US$222 jutaMenurut data produsen; total US$400 juta untuk 2 unit (2012).[1]

Keterbatasan Data

Beberapa detail senjata dan sistem sensor (misalnya varian radar, paket elektronik perang) tidak diuraikan secara terbuka dalam sumber yang dapat diakses publik. Angka displacement penuh dan beberapa biaya dapat berubah tergantung pada konfigurasi akhir yang dipilih oleh TNI‑AL.

TELUSURI SUMBERNYA

Sumber & referensi

  1. Wikipedia Indonesia, "Fregat kelas Martadinata", https://id.wikipedia.org/wiki/Fregat_kelas_Martadinata, diakses 8 November 2026.
  2. Eric Wertheim, "Indonesia’s SIGMA Solution: 10514 Multipurpose Frigates", Proceedings, USNI, Februari 2023, https://www.usni.org/magazines/proceedings/2023/february/indonesias-sigma-solution-10514-multipurpose-frigates, diakses 8 November 2026.
  3. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, "Menhan Resmkian KRI RE Martadinata – 331, Kapal PKR Pertama Dibangun Di Dalam Negeri", 7 April 2017, https://www.kemhan.go.id/2017/04/07/menhan-resmkian-kri-raden-eddy-martadinata-331-kapal-pkr-pertama-dibangun-di-dalam-negeri.html, diakses 8 November 2026.
  4. Wikipedia English, "Martadinata-class frigate", https://en.wikipedia.org/wiki/Martadinata-class_frigate, diakses 8 November 2026.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa jumlah kapal Martadinata yang telah diserahkan ke TNI‑AL?

Dua kapal, yakni KRI Raden Eddy Martadinata (331) dan KRI I Gusti Ngurah Rai (332), telah selesai dibangun dan masuk layanan sejak 2017‑2018.[3][2]

Apakah semua enam kapal yang direncanakan selesai dibangun?

Tidak. Dari enam unit yang direncanakan, hanya dua yang selesai dibangun; dua unit lainnya dibatalkan, dan dua sisanya masih dalam tahap perencanaan.[4][1]

Menemukan informasi yang perlu diperbaiki?
Sampaikan koreksi beserta sumbernya →