by

Indonesia Akuisisi Pesawat AEW&C

Berita militer | Tentara Nasional Indonesia (TNI), Cepat atau lambat pada akhirnya Indonesia akan memiliki pesawat intai dengan kemampuan Airborne Early Warning and Control (AEW&C), paling tidak hal tersebut didasarkan atas cetak biru yang dituangkan dalam Minimum Essential Force II (2015 – 2019). Meski belum jelas jenis pesawat atau platform teknologi apa yang nantinya akan diakuisisi, namun menarik dibahas tentang pengadaan alutsistadefense equipment yang bernilai strategis ini.

defense equipment, alutsista, Airborne Early Warning, tentara nasional indonesia, Minimum Essential Force II

 

Tanpa menyebut merek dan platform, apakah menggunakan basis pesawat jet atau turbo propeller, pada dasarnya pilihan AEW&C nanti juga akan terbelah pada dua opsi, apakah pesawat AEW&C bakal mengadopsi antena radar model piring atau rotodome, atau menggunakan antena model tegak (dorsal) pada bagian atas fuselage-nya? Sesuai dengan perkembangan teknologi dan sisi aerodinamika pesawat, beberapa pesawat AEW&C keluaran baru memang lebih mengarah pada adopsi antena model tegak, seperti yang diperlihatkan pada sistem radar Erieye dan GlobalEye dari Saab, dan E-7A Wedgetail dari Boeing.

Baca juga : Jokowi berikan nama Medium Tank di “Indo Defence”

Sementara antena model rotodome sudah lebih dulu diperkenalkan pada dekade 70-an, dengan Boeing E-3 Sentry AWACS sebagai pelopornya. Sebelum era antena tegak, model antena radar rotodome berhasil membius pasar. Tak hanya dilini Amerika Serikat, bahkan Uni Soviet dan Cina juga keranjingan pada desain radar rotodome. Adopsi yang paling baru, adalah penempatan radar model rotodome pada pesawat C-295 AEW&C.

Baca Juga : Tersangka Penyebar Hoaks Penculikan Anak dan Lion Air Ditangkap

Meski desainnya tergolong masif, tentu efek drag yang dihasilkan dari rotodome telah dipehitungkan oleh pihak pabrikan. Radar di dalam rotodome pada dasarnya tidak bulat dan aerodinamis, namun berkat casing yang menjadikan tampilan radar terlihat halus dan nampak aerodinamis. Dalam frekuensi tertentu, radar berputar dengan tenaga hidrolik. Seperti pada E-3 Sentry, rotodome berputar enam kali dalam satu menit. Sementara dalam moda non operasasi, rotodome berputar pelan, satu kali putaran per menitnya.

Indonesia Akuisisi Pesawat AEW&C, Pilih Model Antena Rotodome Atau Antena Tegak?

Pada dasarnya kecepatan rotodome dapat disesuaikan dengan misi, seperti pada Grumman E-2 Hawkeye, putaran dapat di setting dengan kecepatan putaran 10/12 dan 15 detik.

defense equipment, alutsista, Airborne Early Warning, tentara nasional indonesia, Minimum Essential Force II

Lepas dari jenis dan tipe radar yang digunakan, model rotodome pada pesawat AEW&C sudah mulai ditinggalkan, dan generasi anyar AEW&C lebih menyukai model antena dorsal dengan bidang tegak pada bagian atas pesawat. Selain dapat lebih meminimalisir efek drag, model antena tegak lebih mudah dalam pemeliharaan, disebut-sebut dapat lebih fokus dalam mengamati suatu sudut.

Baca Juga : Pesawat Perang Rusia Muncul Tanpa Diundang di Latihan Militer NATO

Northrop Grumman menyebut model antena tegak punya keunggulan dibanding rada-radar berbentuk piring yang biasa dipakai pada pesawat AWACS jenis terdahulu. Disebutkan radar model antena tegak sebagai temuan terbaru yang lebih reliable. Northrop Grumman berpendapat karena telah mengeliminir bagian yang paling rentan mengalami kerusakan, yakni rotor pemutar piringan radar yang dipakai pada pesawat AWACS jenis E-2 Hawkeye dan E-3 Sentry. Tanpa komponen yang bergerak (berputar), sistem radar akan lebih realiable dalam operasionalnya. (Bayu Pamungkas)

Dilansir dari indomiliter.com

Berita Terbaru