by

Veteran TNI yang Ikut Tumpas DI/TII

Berita Militer Indonesia | PURBALINGGA – Cerita Sueb, Veteran TNI yang Ikut Tumpas DI/TII, Lebih Sulit Dibanding Melawan Belanda – Konsep negara Islam (Daulah Islamiyah) tak pernah berhenti digaungkan oleh para pemujanya hingga sekarang. Tetapi gerakan itu selalu bisa digagalkan pemerintah. Organisasi Masyarakat (Ormas) yang menaungi pergerakan mereka pun ikut dibubarkan karena dianggap mengancam kedaulatan negara.

Pancasila dan UUD 1945 bagaimana pun sudah menjadi keputusan final dari hasil konsensus bangsa ini demi terjaganya persatuan bangsa. Ide negara Islam sejatinya bukan hal baru di Indonesia. Cita-cita itu sudah diimpikan sejak masa perjuangan kemerdekaan.

Tahun 1949, Sukarmadji Maridjan Kartosoewirjo mendirikan Darul Islam (DI) atau Tentara Islam Indonesia (TII) yang mengusung konsep negara Islam. Sueb (90) menjadi saksi sekaligus pelaku penumpasan DI/TII di Jawa Tengah. Ia bersama anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), sebelumnya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) ikut mendapat tugas menumpas DI/TII yang mengancam keamanan negara.

Bagi Sueb, melawan anggota DI/TII bukan hal mudah ternyata. Jika melawan tentara Belanda ia bisa membabi buta, tapi dengan hati yang berat ia harus melawan TII. Warga asli Desa Jembayat Margasari Tegal itu tak yakin tega membunuh sesama bangsa sendiri, terlebih sesama umat Islam. Sedangkan di ajaran agamanya, membunuh sesama umat muslim adalah pebuatan terkutuk.

Apalagi, sebagian mereka berasal dari pasukan Hizbullah yang sebelumnya sempat bersama-sama melawan penjajah. Di antara mereka bahkan ada yang masih tetangganya ataupun sahabat dekat. Di masa pendudukan, kata Sueb, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), bersama Hizbullah yang berafiliasi dengan Masyumi, dan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) berjuang bersama merebut kemerdekaan bangsa ini.

Veteran TNI yang Ikut Tumpas DI/TII

Mereka bisa menanggalkan ideologi politik yang saling bertentangan, baik kiri maupun kanan, karena persamaan misi mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Hingga penjajah terusir dan Indonesia merdeka, peta politik berubah. Dasar negara diperdebatkan karena masing-masing kelompok ingin memaksakan ideologi politiknya. Tetapi Pancasila adalah final yang menjadi konsensus bangsa. “Yang mengusir Belanda bukan umat Islam saja, tapi juga umat lain. Kalau memaksa jadi negara Islam, akan perang lagi,” katanya.

Kartosuwiryo berhasil menarik banyak anggotanya dari tentara Hizbullah untuk bergabung dengan DI/TII. Saat keraguan untuk menumpas DI melanda, Presiden Soekarno turun ke bawah (turba) memantapkan hati. DI/TII sejatinya bukanlah umat Islam karena tega membunuh saudaranya sendiri.

Menurut Soekarno, kata Sueb, DI bukanlah kependekan dari Darul Islam, melainkan singkatan dari istilah bahasa Belanda, kurang lebih, Dood Inlander yang artinya, bunuhlah bangsamu sendiri. Kartosuwiryo disebut termakan hasutan Van Der Plas, pemerintah kolonial Hindia Belanda yang diduga sebagai provokator di balik gerakan ini. Pernyataan Soekarno itu berhasil memantabkan hati Sueb yang sempat ragu menjalankan perintah. Pandangan mereka terhadap DI/TII berubah. Semangat mereka untuk menumpas para pemberontak itu kembali bangkit.

Sueb pun tak lagi ragu melenyapkan anggota DI/TII, meski sebagian di antaranya adalah teman dekat dan tetangganya. Ia masih mengingat betul teman-temannya dari Hizbullah yang bergabung dengan DI/TII lalu tewas atau menyerahkan diri. Di antaranya, Subad, Dimyati, Sunar dan Nurkholis. “Soalnya kan sudah diingatkan beberapa kali sama Pak Karno (Soekarno), suruh pulang karena perbuatannya itu salah. Tapi gak mau. Saya berpikir kalau gak nembak, saya yang ditembak,” katanya.

Sueb yang berpangkat terakhir Sersan Mayor adalah veteran yang ikut berjuang dalam Agresi Belanda II hingga penumpasan DI/TII. Kondisi rumahnya yang memprihatkan sempat memantik perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pemerintah kemudian membedah rumahnya di Rt 6 Rw 2 Desa Padamara Kecamatan Padamara Purbalingga hingga lebih layak huni, Mei 2018 lalu.(*)

Dilansir dari : jateng.tribunnews.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − three =

Berita Terbaru