oleh

Dukung Industri Dalam Negeri, TNI AU Pakai Esemka Jadi Mobil Operasional

TNI Angkatan Udara (TNI AU) mendukung industri otomotif dalam negeri dengan menggunakan mobil Esemka sebagai kendaraan operasional. Sebanyak 35 unit mobil Esemka telah dioperasikan TNI AU di skadron udara seluruh Indonesia.

“Tujuan utamanya adalah mendukung industri otomotif dalam negeri. Sehingga cikal bakal dari produksi mobil nasional ini bisa terus berkembang. Itulah pesan yang ingin disampaikan pimpinan TNI AU,” ujar Kasubdispenum Dispenau Kolonel (Sus) Muhammad Yuris, di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (25/10/2019).

Dukung Industri Dalam Negeri, TNI AU Pakai Esemka Jadi Mobil Operasional
Dukung Industri Dalam Negeri, TNI AU Pakai Esemka Jadi Mobil Operasional

Yuris mengatakan 35 unit yang diadakan oleh TNI AU, ada 5 unit yang berada di Lanud Halim Perdanakusuma. Sementara itu, kata dia, 30 lainnya disebar ke satuan-satuan skadron udara, skadron teknik dan pangkalan udara di seluruh indonesia.

“Informasi terakhir sudah 98 persen sudah sampai ke satuan jajaran, baik di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan ada 1 satuan skadron udara 27 yang ada di Biak, Papua,” katanya.

Yuris menyebut TNI AU memilih mobil Esemka sebagai kendaraan operasional lantaran biaya yang lebih rendah ketimbang membeli mobil merek lain. “Pimpinan TNI Angkatan Udara mengeluarkan anggaran untuk pengadaan mobil operasional skadron-skadron ini lebih rendah daripada apabila kita membeli mobil sejenis dengan merek lain. Itu lah mengapa diambil kebijakan untuk mengadakan mobil ini,” katanya.

Selain itu, kata dia, mobil Esemka dibutuhkan untuk mengangkut perlengkapan. Menurutnya, dengan kapasitas sekitar 1300 CC, mobil Esemka bisa bergerak cepat, lincah, dan hemat bahan bakar.

“Jadi mobil ini kan kita lihat cc tidak terlalu besar, sekitar 1300 cc dan dalam bentuk bak terbuka. Sehingga di satuan-satuan setingkat skadron ini sangat dibutuhkan. Bahkan di skadron tempur ini bisa digunakan sebagai mobil crass tim kalau misal harus mendekat run way harus mengambil parasut yang digunakan pesawat tempur pada saat medarat,” katanya.

“Kemudian mengangkut perlengkapan yang ada skadron, perpindahan tempat dari gudang ke hanggar, hanggar ke peswat,” sambungnya.

Mobil yang baru beroperasi satu bulan itu, kata Yuris, sejauh ini berjalan dengan baik. Menurutnya, ke depan akan dikaji agar mobil produksi dalam negeri itu bisa ditambah jumlah untinya hingga bisa digunakan sebagai kendaraan dinas.

“Mungkin ke depan kita akan mengkaji lagi apabila memang layak untuk digunakan mobil dinas atau mobil jabatan itu bisa dipertimbangkan. Namun sampai saat ini belum, saat ini kita fokus dulu 35 unit untuk mobil operasional di skadron,” pungkasnya. [detik]

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed